Friday, December 05, 2008

Ayashofia (bag.Terakhir)

Akhir-akhir ini di bebagai belahan bumi ini, sesungguhnya musim semi telah mulai tampak. Di setiap tempat musim semi itu menampakkan dirinya. Ia terlihat sanat menggugah dan menyenangkan hati. Dan Ayashofia pasti akan mendapatkan bagiannya. Itu adalah hal yang wajar. Karena kita sebenarnya tidak pernah membuang harapan itu selama musim gugur yang sangat melelahkan ini. Kita masih terus menyimpan harapan mendalam bersama waktu yang megiringi langkah kakai Ayashofia. Sungguhh kita belum kehilangan harapan itu. Bahkan akhir-akhir ini pintu menuju harapan itu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Karena itu kita boleh merasa lega untuk menempuh hidup yang penuh pesona.

Setiap wakltu, seruan itu semakin terdengar keras. Semangat dalam dada ini terasa semakin menggelora. Jiwa yang lama menanti datangnya musim semi ini semakin kuat menyatu dengan seruan itu. Hasrat, inspirasi dan kerinduan yang selama memenuhi setiap celah dalam hati dan jiwa kami, pada hari ini meluap mengusung tanda-tanda kebangkitan bersama terbitnya fajar.

Ayashofia yang selama ini memendam kegalauan, Ayashofia yang selama ini kehilangan pesona, Ayashofia yang tak berdaya karena himpitan derita di sepanjang musim gugur ini, dan Ayashofia yang selama ini diremekan oleh setiap orang dengan pandangan hina yang menyiratkan aib di wajah kita, sesungguhnya ia tidak pernah putus harapan menanti seorang pahlawan sejati yang dapat mengangkatnya dari dari rawa-rawa dan menempatkannya pada tempat yang terhormat. Ia tidak pernah putus harapan untuk semua itu. Cahayanya tidak pernah padam meskipun sepanjang tahun ia hanya bisa menanti dengan segala kecemasannya.

Kami sendiri yakin setelah semua kepedihan ini. kami yakin bahwa setelah malam gelap yang menutupi semua sisi ini akan ada fajar yang menyusul. Kami yakin bahwa krisis ini akan berangsur sirna. Dengan keyakinan penuh, kami menanti pintu langit terbuka bagi siapaun yang datang mengetuknya. Pada saat itu, sinar yang memancar dari sana akan memberi kekuatan, membangkitkan kesadaran serta menerangi jalan kami untuk menggapai harapan di balik cakrawala. Pohon-pohon tua yang menghitam yang tertunduk lunglai itu akan bergoyang dan bersorak sorai bersama datangnya kebahagiaan yang menjemput Ayashofia. Pada saat itu, kabut hitam yang menutupi pesona Ayashofia akan sirna tersapu angin surga.

Singkatnya, pada hari ini kita dalam penantian. Kita mananti cahaya misteri yang akan membakar malam gelap gulita ini dan mengubahnya pada suasana terang benderang. Suasana yang menuntun kita menemukan kembali masa kejayaan yang berkilau. Kita menanti generasi-generasi berjiwa Muhammad Fatih, Ulu Batili Hasan, Khadr Jalabi dan Syamsuddin. Kita masih memiliki semua harapan ini.

Air mataku mengguyur, wahai Ayashofia!
Di hatiku terbentang samudera kerinduan.
Tiba saatnya engkau bukakan pintu untuk kami.
Tiba saatnya, wahai Ayashofia!
***

Oleh : Muhammad Fathullah Kaulan

No comments: