"Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS Az-Zumar,10)
Thursday, October 31, 2013
Sebelum Aku Menjadi Ibu
Sebelum aku menjadi ibu
Aku tidak pernah tersandung mainan atau lupa lirik lagu nina bobo.
Aku tidak pernah khawatir apakah tanaman di halaman beracun atau tidak.
Aku tidak pernah berpikir mengenai imunisasi.
Sebelum aku menjadi ibu,
Aku tidak pernah kena muntah, kena pup, digigiti, kena ompol.
Aku bisa mengendalikan benak dan pikiranku sepenuhnya.
Aku bisa tidur pulas sepanjang malam.
Sebelum aku menjadi ibu,
Aku tidak pernah harus memegangi anak yang menangis kencang supaya bisa diperiksa oleh dokter.
Atau disuntik oleh dokter.
Aku tidak pernah memandangi mata yang berkaca-kaca dan jadi menangis karenanya.
Aku tidak pernah merasa begitu bahagia hanya karena melihat sebuah senyuman.
Aku tidak pernah terjaga sampai larut malam hanya untuk memandangi bayi yang sedang tertidur pulas.
Sebelum aku menjadi ibu,
Aku tidak pernah menggendong seorang bayi yang sudah terlelap hanya karena tidak ingin meletakkannya di tempat tidur.
Aku tidak pernah merasa hatiku hancur karena tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang dideritanya.
Aku tidak pernah mengira bahwa sesuatu yang begitu kecil bisa berpengaruh begitu besar terhaap kehidupanku.
Aku tidak pernah mengira aku akan menyenangi menjadi seorang ibu.
Sebelum aku menjadi ibu,
Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya bila jantungku berada di luar diriku.
*have a great friday, mommies ;') *
Sepotong Intan
Quote of the day from tere liye :
“Sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu, suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.
Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasannya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh."
Saya setuju sekali dengan quote di atas, yakin sudah bahwa hidup hanyalah pinjaman, hanyalah sementara, perjalanan menuju perjumpaan dengan Yang Maha Kuasa, Maha Kehendak segala yang ada dibumi. Ya Allah lindungilah kami dalam perjalanan ini dan sampaikanlah untuk bisa berjumpa dengan kekasihMu...Amin..Amin..
Monday, October 07, 2013
Cita-citaku : Keluargaku Mengaji
Seperti biasa kalau hari kerja selalu cari penyemangat di kantor, Alhamdulillah ketemu deh dari fbnya ustadz yusuf mansyur yang sangat penting tentang keluarga mengaji, keluarga tingkat tinggi.
Selama bulan Ramadhan 1434 H kemarin sehabis sholat maghrib pasti saya setor baca Qur’an satu halaman ke abinya shofie, hanya setelah Ramadhan ini seringkali bahkan hampir dilupakan tidak mengaji lagi. Astagfirlloh al adzim, mulai nanti sore harus semangat lagi baca qur’an nih. Dari artikelnya ustad yusuf mansyur banyak sekali keberkahan jika keluarga kita ayah, ibu dan anak-anak setiap malam mengaji.
Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan, dulu sebelum menikah aku bercita-cita ...kelak ketika aku sudah memiliki keluarga aku ingin keluargaku terbiasa melakukan suatu amalan walaupun itu hanya hal kecil tapi tidak pernah di tinggalkan bagaimanapun keadaannya dan semoga amalan itu dapat menjadi kebanggaan ketika bertemu dengan Allah SWT nanti dan kebanggaan menjadi umat Rasulullah Muhammad SAW. Alhamdulillah saat ini aku sudah dikarunia satu putri yang usia nya sudah mau 2 tahun, maka dari itu amalah yang pertama ingin aku sampaikan padanya agar terbiasa membaca Al Qur’an setiap sore sehabis maghrib or isya, apapun keadaannya & tidak menyalakan televisi.
Banyak sekali diantara kita, apalagi yang ayah & ibunya bekerja ketika pulang kerja melepas lelah sambil istirahat menonton televisi, sebenarnya hal ini bisa di siasati dengan membaca Qur’an. Jadi sambil melepas lelah kita membaca Al Qur’an, jika itu dilakukan setiap hari akan menjadi kebiasaan yang baik sekali. Dari perkataan ustad yusuf mansyur bahwa keluarga mengaji tidak mengharapkan gaji, tapi mengharap ridho dari Allah SWT, karena keluarga mengaji yang lulus uji, dengan bisa melewatkan kemalasan dan mengutamakan mengaji.
Keluarga mengaji tidak perlu guru ngaji, karena bapak dan ibunya yang harus mengajari anak-anaknya mengaji...oleh karena itu wahai kedua orangtua, dan para calonnya, jadilah kalian harus membekali diri untuk bisa mengaji....Ya para calon orang tua harus membekali diri untuk bisa mengaji, jadi tidak hanya berjanji untuk sehidup semati, why ?
Keluarga yang hidup ialah keluarga yang mengaji.
Keluarga yang mati ialah keluarga yang semua orang didalamnya tidak bisa mengaji. Na'udzubillah min dzaalik. Semoga keluarga kita dan semua keluarga kaum Muslimin menjadi keluarga yang mengaji, Aamiin.
Subscribe to:
Posts (Atom)