Wednesday, April 24, 2013

Rezekimu Telah Dijamin


Dalam suatu acara seseorang yang berprofesi sebagai trainer bertanya, “Saya dapat proyek training tetapi panitianya meminta fee. Sebaiknya saya bagaimana, pak?” Pertanyaan itu langsung saya jawab, “Kita mengajarkan kebaikan tak pantas bila kita mencontohkan keburukan. Tolak.”

Tak lama kemudian trainer ini menjawab, “Jujur pak, saya sedang perlu banyak dana. Sehingga permintaannya saya iyakan, tetapi saya galau. Saat menulis inipun saya meneteskan air mata. Terima kasih pak sudah mengingatkan. Saya segera temui panitianya dan memohon maaf tidak menerima tawaran mereka. Saya tidak ingin bayi dalam kandungan istri saya mendapat rezeki dari arah yang tidak baik.”

Rezeki datang dari Sang Maha Pemberi Rezeki. Tugas kita berusaha sekuat tenaga dan sebaik-baiknya, tak perlu khawatir Dia pasti akan menghidangkannya. Hanya diperlukan kesabaran dan selalu taat kepada-Nya.

Cobalah renungkan… Saat dalam kandungan, rezeki sudah dijamin dan dikirimkan oleh-Nya melalui tali pusar sang bayi. Begitu bayi lahir, air susu ibunya otomatis keluar untuk dikonsumsi sang bayi. Bila air susu tak keluar, Allah memberikan rezeki kepada orang tuanya agar sanggup membeli susu untuk diberikan kepada buah hatinya.

Jangankan manusia yang diberi akal, binatang melatapun dijamin rezekinya oleh Sang Maha Kaya. Cicak yang tak bisa terbang mendapat makanan berupa nyamuk yang pandai terbang. Saya yakin cicak tidak pernah mengeluh, “Ya Allah, aku tak bisa hidup karena makananku terbang semua, sementara Engkau tidak memberi kemampuan kepadaku untuk terbang.”

Rezeki itu seperti kematian, misteri. Ada yang sudah kerja keras tetapi rezekinya pas. Padahal ada yang sedang bermain sama anaknya tiba-tiba dapat order. Ada yang pintar tak dapat beasiswa, sementara yang “lola” alias “loading lambat” beasiswanya berlipat. Tugas kita menyiapkan berbagai jalan agar rezeki datang berlimpah. Mau tahu caranya? Beli buku terbaru saya ON, ya! [Promosi nich ye....]

Oleh karena itu tak perlu khawatir. Apabila hari ini jatah kita mendapat rezeki, maka rezeki itu pasti akan datang. Tugas kita menyiapkan jalan datangnya rezeki dan memastikan rezeki yang datang itu halal. Sebab, bila rezeki kita hari ini 1 juta yang datang pasti 1 juta, baik dengan cara halal atau haram. Maka pilihlah yang halal. Setuju?

*disadur dari http://www.jamilazzaini.com/rezekimu-telah-dijamin/

Friday, April 19, 2013

الحفاظ على لسانك



1. Jika kamu ingin memperbaiki hatimu maka jagalah lidahmu (Ahmad Al-Athaki)

Penjelasan: Saya pernah mendengar ceramah Aa Gym tetang hati dan teko. Katanya, “Bila teko berisi kopi maka ketika dituang yang keluar pasti kopi. Bila teko berisi susu maka ketika dituang yang keluar adalah susu.” Artinya, bila hati kita baik yang terucap pasti baik. Sebaliknya bila hati kita kotor yang keluar dari mulut kita juga kotor.

Lantas bagaimana supaya hati kita bersih? Jawabnya adalah jaga lidahmu. Ya, lidah dan hati ibarat dua sisi mata uang. Bila ingin baik salah satunya, maka perbaikilah satu yang lainnya. Saya dulu orang yang sering menyakiti orang lain dengan kata-kata. Hati saya resah dan gelisah bila tidak berkomentar atau menjatuhkan orang yang meledek atau menggoda saya.

Saya benar-benar mulai berlatih mengendalikan lidah ketika mendapat nasehat dari teman saya. Begini nasehatnya, “Sediakan di rumahmu papan, paku dan palu. Ketika kata-katamu melukai orang lain pakulah papan itu. Ketika melukai lagi palu lagi. Saat kamu sadar dan meminta maaf, cabutlah paku itu. Apa yang terjadi? Bekasnya masih ada. Begitulah saat kau menyakiti orang lain dengan kata-katamu. Walau kau meminta maaf kepada orang itu, bekas lukanya masih ada.”

Sejak saat itu saya berusaha menjaga lidah. Sejak saat itu pula hati saya tak lagi mudah resah dan gelisah. Saya juga belajar berterima kasih bila ada orang yang menjelek-jelekkan saya. Karena, orang itu telah mengurangi dosa saya.

2. Lidah itu laksana seekor binatang buas, bila dilepaskan pasti membunuh (Ali bin Abi Thalib).

Penjelasan: Bila kita berbuat dosa kita bisa segera bertaubat kepada-Nya. Tetapi dosa yang berhubungan dengan orang lain, kita harus meminta maaf dulu kepada orang yang bersangkutan. Maka hati-hatilah terhadap dosa kepada orang lain yang boleh jadi disebabkan lidah kita. Misalnya, kita menggunjingkan kejelekan orang lain tanpa orang itu tahu. Hal itu akan menjerumuskan kita pada dosa yang amat sulit bertaubatnya.

Bukan hanya itu, asal berkomentar bisa menimbulkan polemik dan meresahkan masyarakat. Orang yang serampangan ketika berkomentar akan mendapat banyak hujatan dari masyarakat. Apalagi yang berkomentar adalah orang yang memiliki jabatan terhormat. Hati-hatilah terhadap lidahmu.

So, pastikan lidahmu terjaga agar hatimu juga terjaga. Selain itu, jangan biarkan lidahmu dilepas tanpa kendali, karena itu akan menjatuhkan dirimu

sumber : http://www.jamilazzaini.com/jaga-lidahmu/