Tuesday, December 09, 2008

Belajar pada Bunga Sakura


Akhir Maret dan awal April adalah musim bunga terindah di Jepang. Menyaksikan keindahan bunga sakura yang menjadi bunga tidak resmi negara Matahari Terbit itu bagai tidak ada puasnya. Tak heran kalau setiap tahun menjelang datangnya musim semi, kemeriahan festival sakura dan hanami (pesta yang diselenggarakan di bawah rerindangan pohon sakura) menjadi saat yang selalu ditunggu-tunggu, baik oleh orang Jepang sendiri maupun pelancong asing.
Sebagaian orang menunggu musim sakura sambil membaca ramalan cuaca yang disertai ramalan waktu mekarnya bunga ini punya debaran sekaligus keasyikan tersendiri. Pasalnya, sakura sangat unik. Musim yang ditunggu-tunggu tersebut hanya berlangsung dalam rentang satu pekan saja. Itu belum termasuk seandainya turun hujan dan angin ribut yang bisa saja dengan serta-merta merontokkan keindahan kelopak-kelopak sakura ke tanah.

Keindahan sakura sulit dilukiskan dengan kata-kata. Warna dominannya yang putih suci yang sesekali ditingkahi dengan rona merah muda nan pasi bagai membawa pengunjung menyaksikan gelantungan bola-bola salju yang menawan. Dari kejauhan sebatang pohon sakura bagai tertutupi salju putih nan indah dari atas ke bawah. Bahkan, terlihat seperti awan yang tengah berarak. Bagi orang Jepang, keindahan sakura makin terlihat apabila bunga itu tumbuh di sekitar bangunan tua atau rumah-rumah ibadat Shinto dan Budha yang berarsitektur klasik khas Jepang. Di beberapa tempat menjelang terbenamnya matahari, hamparan sakura bagai memberi sinar tersendiri. Sungguh memesonakan.
Kawula muda akan berkumpul bersama sambil bernyanyi dan bermain musik, bahkan ada yang sampai menenggak alkohol. Namun, bagi sebagian orang Jepang yang religius, mereka akan pergi ke kuil dan berdoa.Hanami, berkumpul bersama di bawah sakura, jelas agenda tak terlupakan setiap tahun baik buat warga Jepang maupun warga asing. Mereka akan datang bersama keluarga atau kolega ke taman-taman, duduk-duduk, makan makanan enak, sambil kemudian menikmati sakura bersama.

Tidak seperti kebanyakan bunga lainnya, bunga sakura muncul lebih dahulu ketimbang daunnya. Setelah seminggu berlalu dan kelopak-kelopak sakura berguguran, baru tumbuh dedaunan. Keberadaan kembang yang singkat itu dengan kecantikan dan pesona yang luar biasa serta diikuti dengan fase kematian sangat cepat, sering dikaitkan dengan makna kematian. Bagi orang Jepang yang mayoritas Budha, meski kebanyakan mengaku bukan pengamal yang baik agama tersebut, siklus bunga sakura diyakini sebagai refleksi kehidupan manusia yang sungguh singkat.

Simbol kerja-keras Ketika menghadiri sebuah pertemuan ilmiah di tengah Kota Tokyo, seorang profesor Jepang di bidang botani bertanya pada peserta yang hampir semuanya warga asing, makna sakura dalam kehidupan. Kebanyakan menjawab filosofi sakura sebagai metafora kehidupan yang sangat pendek. Ada juga yang menjawab sakura dijadikan simbol untuk menstimulasi rasa nasionalisme, terutama apabila dihubungkan dengan prajurit selama Perang Dunia II. Bukan rahasia lagi Pemerintah Jepang menggalakkan masyarakat meyakini jiwa para prajurit mereinkarnasi dalam kelopak-kelopak sakura.

Namun, sang Profesor memiliki interpretasi lain. Baginya, sakura patut dilihat dari sisi biologi dan botani. Keunikannya dengan bunga yang indah baru kemudian disusul daun menunjukkan sakura sebuah makhluk pekerja keras. Jarang yang memperhatikan sakura mempersiapkan dirinya, memahami penderitaannya di tengah ekstrem musim gugur, kemudian muncul memberi pesona menjelang musim semi tiba. Sakura melewati semua tantangan dan kesulitan dengan sukses untuk tampil memberi hasil karya yang cemerlang.

Subhanallah…Bunga Sakura yang merekah indah dengan usianya yang begitu singkat, tak pernah menghalanginya untuk menebarkan keindahan yang dimiliki. Seyogyanya juga manusia mesti memberikan yang terbaik sepanjang hidupnya. Tak henti menebarkan rasa cinta dan kasih sayang dalam segala akhlaq serta tingkah laku, hingga kematian menghampiri kita.Karena sebagai insan kita tak pernah tahu hingga kapan umur ini diamanahkan

Friday, December 05, 2008

Belajar dari kura-kura

Ada satu keluarga kura-kura memutuskan untuk pergi bertamasya. Dasar kura-kura, dari sananya memang sudah serba lambat, untuk mempersiapkan piknik ini saja mereka butuhkan waktu 7 tahun. Akhirnya keluarga kura-kura ini meninggalkan hunian mereka, pergi mencari tempat yang cocok untuk kegiatan piknik mereka.
Baru ditahun kedua mereka temukan lokasi yang sesuai dan cocok! Selama enam bulan mereka membersihkan tempat itu,membongkari semua keranjang-kura perbekalan piknik, dan membenah-susuni tempat itu. Lalu mereka baru sadar dan lihat bahwa mereka lupa membawa garam.

Waduh, sebuah piknik tanpa garam? Mereka serempak setuju dan berteriak itu bisa menjadi bencana luar biasa. Setelah panjang lebar berdiskusi, kura termuda yang diputuskan terpilih untuk mengambil garam di rumah mereka. Meskipun ia termasuk kura tercepat dari semua kura-kura yang lambat, si kura kecil ini merengek, menangis dan me-ronta-kura dalam batoknya. Ia setuju pergi tapi dengan berdasarkan satu syarat: bahwa tidak satu pun boleh makan sampai ia kembali. Keluarga kura itu setuju dan si kura kecil ini berangkatlah.
Tiga tahun lewat dan kura kecil itu masih juga belum kembali. Lima tahun, enam tahun, lalu memasuki tahun ketujuh kepergiannya, kura-kura tertua sudah tak tahan menahan laparnya. Ia pun mengumumkan bahwa ia begitu lapar dan akan mulai makan dan mulai membuka rotinya.
Pada saat itu, tiba-kura muncul si kura-kura kecil dari balik sebatang pohon dan berteriak: "Lihat tuhhh!! Benar, kan!? Aku tahu kalian memang tak akan menunggu. Achhh, kalau begini caranya aku nggak jadi pergi mengambil garam."
Sebagian dari kita memboroskan waktu sekedar Cuma menunggui sampai orang lain memenuhi harapan kita. Sebaliknya, kita begitu kuatir, prihatin, sering malah terlalu memerdulikan apa yang dikerjakan orang lain sampai-sampai dan malahan kita cuma berpangku tangan tanpa berbuat apa pun. Kita acap menjadi kura-kura, tanpa menyadarinya.

Ayashofia (bag.Terakhir)

Akhir-akhir ini di bebagai belahan bumi ini, sesungguhnya musim semi telah mulai tampak. Di setiap tempat musim semi itu menampakkan dirinya. Ia terlihat sanat menggugah dan menyenangkan hati. Dan Ayashofia pasti akan mendapatkan bagiannya. Itu adalah hal yang wajar. Karena kita sebenarnya tidak pernah membuang harapan itu selama musim gugur yang sangat melelahkan ini. Kita masih terus menyimpan harapan mendalam bersama waktu yang megiringi langkah kakai Ayashofia. Sungguhh kita belum kehilangan harapan itu. Bahkan akhir-akhir ini pintu menuju harapan itu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Karena itu kita boleh merasa lega untuk menempuh hidup yang penuh pesona.

Setiap wakltu, seruan itu semakin terdengar keras. Semangat dalam dada ini terasa semakin menggelora. Jiwa yang lama menanti datangnya musim semi ini semakin kuat menyatu dengan seruan itu. Hasrat, inspirasi dan kerinduan yang selama memenuhi setiap celah dalam hati dan jiwa kami, pada hari ini meluap mengusung tanda-tanda kebangkitan bersama terbitnya fajar.

Ayashofia yang selama ini memendam kegalauan, Ayashofia yang selama ini kehilangan pesona, Ayashofia yang tak berdaya karena himpitan derita di sepanjang musim gugur ini, dan Ayashofia yang selama ini diremekan oleh setiap orang dengan pandangan hina yang menyiratkan aib di wajah kita, sesungguhnya ia tidak pernah putus harapan menanti seorang pahlawan sejati yang dapat mengangkatnya dari dari rawa-rawa dan menempatkannya pada tempat yang terhormat. Ia tidak pernah putus harapan untuk semua itu. Cahayanya tidak pernah padam meskipun sepanjang tahun ia hanya bisa menanti dengan segala kecemasannya.

Kami sendiri yakin setelah semua kepedihan ini. kami yakin bahwa setelah malam gelap yang menutupi semua sisi ini akan ada fajar yang menyusul. Kami yakin bahwa krisis ini akan berangsur sirna. Dengan keyakinan penuh, kami menanti pintu langit terbuka bagi siapaun yang datang mengetuknya. Pada saat itu, sinar yang memancar dari sana akan memberi kekuatan, membangkitkan kesadaran serta menerangi jalan kami untuk menggapai harapan di balik cakrawala. Pohon-pohon tua yang menghitam yang tertunduk lunglai itu akan bergoyang dan bersorak sorai bersama datangnya kebahagiaan yang menjemput Ayashofia. Pada saat itu, kabut hitam yang menutupi pesona Ayashofia akan sirna tersapu angin surga.

Singkatnya, pada hari ini kita dalam penantian. Kita mananti cahaya misteri yang akan membakar malam gelap gulita ini dan mengubahnya pada suasana terang benderang. Suasana yang menuntun kita menemukan kembali masa kejayaan yang berkilau. Kita menanti generasi-generasi berjiwa Muhammad Fatih, Ulu Batili Hasan, Khadr Jalabi dan Syamsuddin. Kita masih memiliki semua harapan ini.

Air mataku mengguyur, wahai Ayashofia!
Di hatiku terbentang samudera kerinduan.
Tiba saatnya engkau bukakan pintu untuk kami.
Tiba saatnya, wahai Ayashofia!
***

Oleh : Muhammad Fathullah Kaulan

Thursday, December 04, 2008

Ayashofia (bag. 2)

Ayashofia sendiri telah dipenuhi ruh umat islam. Meskipun tahun demi tahun terus berlalu, akan tetapi setiap kali kita mendekatinya, atau memasuki ruang sakralnya yang memancarkan cahaya khusus itu, kita akan merasakan adanya makna yang beraneka ragam tentang masa lalunya yang gemerlap. Meskipun ruang-ruang itu hanya diam membisu, akan tetapi ia menyimpan kekuatan yang dapat membawa kita pada suasana akrab ibarat perjumpaan dengan sahabat lama. Dia bisa membisikkan kelimat-kalimat ke dalam telinga kita. Dia bisa merangkai kata dan berusaha menjelaskannya pada kita. Begitulah, setiap kali kita mendekatinya rasanya kita sedang berhadapan dengan para leluhur kita yang terpisah oleh zaman. Sekali lagi, kita akan terbawa khayalan seolah dia terus menerus berbisik pada jiwa kita tentang perasaan-perasaan dan hasrat-hasrat yang tersembunyi.

Dengan kondisinya yang terasing lagi terbuang seperti sekarang ini, tentulah banyak keluhan yang jika sanggup ia ungkapkan niscaya akan menggetarkan jiwa kita. Dia merasakan kepedihan yang dalam. Dia merasakan pukulan yang meluluhlantahkan kecantikannya. Dia kini seperti seorang bocah yang sedang meminta perhatian. Dia ingin selalu menjadi buah bibir setiap orang. Dia tidak saja ingin dikenali, tapi ingin disayang dan dikasihi. Semua itu akan membuat siapapun yang menatapnya merasa iba. Semua itu membuat siapapun yang memandangnya akan meneteskan air mata kepedihan. Sungguh dia ingin sekali mencurahkan masa lalunya yang penuh gemerlam ke dalam lubuk hati kita.

Di tengah kabut hitam yang mencekam seperti sekarang. Dengan raut muka yang menguning seperti buah jeruk itu. Serta dalam karakternya yang serba berbau Timur ini, sesungguhnya Ayashofia lebih mirip dengan sekuntum bunga dari Barat, bukan seperti bunga yang lahir dari sebuah perjuangan. Karena itu, pertama kali menatapnya kita akan merasakan benturan-benturan yang tidak menentu dalam penglihatan kita. Namun, segera setelah itu kita akan dikelilingi cahaya yang menyejukkan sebagai hadiah dari upaya lima generasi umat Islam dalam menjaga kejayaan Ayashofia. Cahaya itu bertebaran ke segala penjuru jiwa kita hingga kita berhasrat untuk selalu mendekapnya penuh kasih sayang. Kita akan terus menciumnya ibarat bunga yang kita petik dari taman.

Andaikata kita bawa ruang bersejarah ini bersama angan-angan ke masa lalu yang penuh pesona, maka kita akan terbawa untuk memahami makna-makna yang indah itu sedalam perasaan. Kita akan berjalan di masa mudanya yang sangat perkasa dan menawan. Kita akan diajak untuk mendengarkan lantunan musik yang syairnya mengisahkan seluruh kenangan manis dan pahit di masa lalunya. Kita akan dibawa mengarungi seluruh hari bahagia maupun hari suramnya. Kita akan diajak mencicipi semua pengalaman sepanjang sejarah hidupnya yang tidak kurang dari 1700 tahun. Sesungguhnya ia ingin melakukan semua itu bersama anda. Akan tetapi ia idak sanggup lagi. Dia seperti orang yang mulutnya disumbat dengan penindih yang sangat kuat. Dia tidak bisa lagi berkisah. Dia tidak bisa lagi berkata-kata. Yang bisa dilakukan hanya menelan ludah. Ia berusaha keras untuk menjerit, tapi sedikitpun itu tidak dapat dilakukannya. Dengan himpitan rasa takutnya yang terpancar dari raut muka yang sedih itu, ia tidak ubahnya seperti tumpukan batu keras yang terdiam membisu.

Dari generasi ke generasi Ayashofia hidup bersama kita. Ia telah mendarah daging dengan kehidupan kaum muslimin. Keterkaitan ini teramat erat hingga kita melihatnya seperti warisan asli dari pemerintah Istambul. Semua yang melekat padanya melambangkan peradaban kejayaan kaum muslimin pada masa sultan-sultan Usmani. Dindingnya yang berdiri kokoh mengitari seluruh sisi bangunan. Bangunan yang tegak ditopang pondasi yang menancap dan mengakar di bumi. Beberapa tambahan di dalamnya terus dilakukan dalam setiap generasi kekasiran. Saya katakan ia seperti peninggalan asli dari pemerintah Usmani juga dikarenakan keberadaannya selama kurang lebih empat generasi selalu di bawah pengawasan dan perhatian yang besar dari pemerintah. Ia juga sangat dekat dengan bangunan Istana “Tub Qabu” yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Usmani. Selain itu, bangunannya yang berderet dekat dengan Masjid Sultan Ahmad semakin melengkapi atributnya sebagai milik kaum muslimin. Tentu saja semua ini mengindikasikan sebuah kesadaran beragama (termasuk politik) yang berhasil meninggalkan pengaruh mendalam di hati setiap kaum muslimin. Kesadaran inilah yang pada akhirnya menempatkan Ayashofia sebagai bagian tak terpisahkan dari alam serta kehidupan kita.

Setiap hari, matahari menampakkan wajahnya dengan cahaya yang sedikit demi sedikit membelai menaranya. Cahaya itu lalu menuruni menara dan hinggap di atas kubah. Perlahan tapi pasti, cahaya yang semakin terang itu menyebar memenuhi bangunan Ayashofia. Lalu ia mengarah ke Masjid Sultan Ahmad. Saat senja tiba, cahayanya yang redup mendekap erat Masjid Sultan Ahmad seiring dengan datangnya angin senja yang berhembus sesaat setelah waktu ashar. Cahaya senja yang mengawali belaiannya dari Istana “Tub Qabu” itu terus berjalan tenang melewati Masid Sultan Ahmad hingga menjangkau Ayashofia. Sinar mentari itu datang dan pergi melewati dua bangunan peribadatan yang megah ini dua kali setiap hari. Seolah-olah ia hendak menyampakan salam dari Nabi Isa as kepada Nabi Muhammad saw. Dan sebaliknya, dari Nabi Muhammad saw kepada Nabi Isa as.

Orang-orang yang hatinya sedih melihat keadaan dua bangunan ibadah ini seperti merasakan hembusan angin yang membawa awan dingin bertiup dari Timur dan mengarah ke Istana Tub Qabu. Seiring hembusan mendung dingin ini, mereka merasakan ratapan kesedihan dalam jiwa yang menyematkan rasa tak berdaya. Leher mereka seolah tercekik, namun tidak berdaya melepaskan rasa sakit. Kadangkala mereka melihat seperti ada mendung tebal yang menutupi langit. Namun ada kalanya tatkala perasaan sakit yang mereka rasakan sampai pada titik nadir, tidak mustahil perasaan sakit yang sangat komplek ini akan menyatu berkat pertolongan serta kasih sayang dari Dzat Yang Maha Kuasa. Perasaan yang menggumpal itu akan menjelma seperti rangkaian syahadah (kesaksian) yang muncul dari sekitar menara dan terus mengarah ke alam keabadian sejati. Mereka akantenggelam dalam khayalan tersendiri. Mereka akan mencapai suatu kondisi yang tidak dapat digambarkan. Mereka seolah telah menemukan pesona yang sanggup manghapus kepedihan serta menyinarkan harapan baru. Segera setelah mereka melangkahkan kaki sekalisaja, mereka akan sampai di ambang pintu rahmat sang Maha Rahman yang pintu-Nya selalu terbuka di hadapan kita. Setelah itu, mereka akan menghadap kepada Sang Rahman dengan segenap jiwa dan kepasrahan total serta hasrat cinta yang menyala-nyala. “Ya Tuhan kami! Wahai Dzat Yang sanggup membuka setiap pintu yang tertutup! Bukakanlah kepada kami pintu-pintu Ayashofia sebagaimana terbukanya ribuan pintu yang lain. Dan sinarilah tanahnya yang hitam karena sujud yang terhalang. Sinarilah dengan cahaya sujud walau sekali saja!”

Keadaan yang sangat memprihatinkan di Ayashofia ini mendorong setiap orang yang melihatnya mengucapkan unmgkapan yang yang menakjubkan, sekalipun di dalamnya menyiratkan rasa sakit yang mendalam. Keadaannya yang terbaring sakit tak berdaya itu menyerupai orang yang membelalakkan matanya pada kita sementara ia tidak dapat berkata-kata. Setiap kali kita menyaksikan keadaannya yang menyedihkan ini, rasanya di dalam jiwa ini muncul hasrat serta keinginan-keinginan yang melangit. Hal itu seperti dapat menggugah kesadaran, dan membawa kita menemukan impian esok di pagi hari. Pagi hari dimana kita akan menyaksikan impian kita terlukis jelas di sana. Sementara itu, kita tidak lagi peduli dengan diri sendiri. Kita tinggalkan diri kita terjerembab dalam dunia yang dipenuhi kabut gelap dan awan hitam.

Kadangkala suara adzan yang bekumandang dari menara Masjid Sultan Ahmad dan sampai ke Istana Tub Qabu, rasanya seperti berkumandang dari menara Ayashofia. Saat mendengar suara adzan itu, kita seperti merasakan pesona suasana masa lalu yang mengaliri sekujur tubuh kita. Kita seperti sedang melayang dengan sayap-sayap impian dan menembus langit-langit masa lalu. Kadang kala, ada sesuatu yang mendalam melintasi tubuh kita seiring dengan lantunan kumandang suara adzan. Bersama gema takbir yang berkumandang itu, lahir khayalan seolah kita mendengarkan seruan bala tentara Sultan Fatih yang berjuang dalam peperangan mengembalikan kemuliaan kalimat Allah. Kita seperti hidup di tengah masa puncak kejayaan.

Pohon-pohon tua yang ada di sekitar Ayashofia, dinding-dinding batu yang terlihat renta, serta kubah-kubah kecil dan besar yang penuh dengan kenangan tersembunyi, semua itu seringkali memberikan kesan tak menentu dalam hati kita. Perasaan yang membolak-balikkan beragam aroma yang menyentuh jiwa. Perasaan yang takkkan pernah tehapus dalam dada. Namun keadaan ini tidak berlangsung lama. Pasalnya harapan cerah akan segera menyingsing dari tepi iman kita. Sebagaimana kebekuan musim dingin yang sirna oleh datangnya musim semi. Sebagaimana malam menghilang di ambang fajar, demikian pula mendung hitam yang menyelimuti Ayashofia akan berangsur sirna hingga langit tampak cerah di atasnya.

Di manapun dan kapanpun, kegelapan tidak akan pernah bertahan sepanjang masa. Tidak mungkin ketidakberdayaan ini akan tiada akhir. Karena itu meskipun hingga kini kita masih mendekap dalam gelap yang memisahkan kita dari impian terindah, sampai detik inipun sesungguhnya cahaya itu masih saja memnyinari kepada kita. Sesungguhnya cahaya itu belum sirna. Ia masih menerangi meski dari tempat yang sangat jauh. Masih ada semangat ilahi yang mengalir di tubuh kita dan melapangkan harapan. Masih ada hembusan angin yang menguatkan tekad kita. Masih ada dan tiada mungkin sirna hingga kapanpun.

(bersambung Ayashofa, bag.3 )

Ayashofia (Bag.1)

Ayashofia merupakan peninggalan arsitektur termegah yang pernah ada di muka bumi. Dia melambangkan kesempurnaan karya seni arsitektur yang bercokol di bumi Syiria. Bangunan ini merupakan gereja timur pertama yang memiliki reputasi internasional. Hingga datangnya kemenangan Istambul di wilayah ini, gereja kuno tersebut dianggap sebagai satu-satunya tempat peribadatan terbesar di kalangan Masihi. Tatkala kekuasaan salib yang megah ini hancur karena peperangan, dengan sendirinya kekuasaan Konstantin berpindah ke tangan Istambul. Hal itu membawa akibat langsung pada bangunan Ayashofia. Ayashofia yang semula didirikan sebagai tempat ibadah kaum Masihi Timur, oleh penguasa Istambul dialihfungsikan sebagai tempat ibadah kaum muslimin. Keadaan ini berlangsung hingga tahun 1934 saat masjid Ayashofia diresmikan sebagai museum oleh pemerintah setempat. Sejak itu tidak terdengar suara adzan berkumandang di atas menaranya. Sejak itu pula lafazh jalalah yang bertengger di atas kubahnya dihapuskan. Seluruh ruangan yang dipenuhi aura kaum muslimin selama bertahun-tahun menjadi senyap tanpa kehidupan. Dan sejak inilah lambang kebesaran kaum muslimin yang direpresentasikan bangunan ini ditenggelamkan.

Ayashofia sendiri merupakan salah satu peninggalan Konstantin bersama anaknya yang menyimpan nuansa spiritual. Bangunan ini mengalami kebakaran yang sangat besar selama kurang lebih tiga kali. Karen itu, banyak perbaikan yang dilakukan pemerintah setempat untuk mengembalikannya pada bentuk semula. Adapun keadaannya sekarang terlihat sangat menyedihkan. Keadaan yang malang ini terlihat dari kebisuannya yang menyelimuti seluruh aura wajahnya. Padahal Imperatur “Jestinanus” memerintahkan pembangunan tempat ibadah ini sebagai hadiah untuk Maryam as. Apa yang dilakukan Jestinanus merupakan pekerjaan besar yang amat monumental dalam membangun sebuah tempat ibadah kaum masehi yang beralih fungsi menjadi masjid itu. Bangunan ini dipersembahkan sebagai tampat peribadatan yang padat karya seni. Ornamen yang menghiasi permukaannya, baik dari dalam maupun dari luar menyimpan beragam makna yang selaras dengan keindahan arsitektur ini. Sebagai hadiah yang diperuntukkan bagi Maryam as, bangunan ini sarat akan nilai-nilai alam (natural) sebagaimana pula sarat akan makna-makna spiritual yang menyentuh hati. Tatkala para penganut Masehi merayakan kebahagiaan mereka atas hadiah yang diperuntukkan bagi Maryam as ini, sang Imperatur merasa amat bangga. Dan karena rasa bangga itu pula, sang Imperatur berkata kepada Nabi Sulaiman, “Aku telah mengalahkanmu.” Anehnya, belum lewat seperempat abad dari usianya, bangunan yang megah ini digoyang gempa bumi dan sempat merobohkan kubah besar yang betengger di atas. Dari sini, pembangunan beserta hiasan-hiasan ornamennya dimulai lagi dari awal.

Namun keadaan itu tidak bertahan lama karena pecah peperangan antara Konstantin dengan Penguasa Latin. Penguasa Latin berhasil menundukkan Konstantin dan mereka membumihanguskan tempat ibadah ini hingga rata dengan tanah. Konflik yang bekepanjangan yang mengiringi hari-hari Ayashofia ini hanya meyisakan puing-puing kehancuran. Nyaris tidak pernah ada ketenangan sejenakpun hingga sampai pada pertengahan abad 15. Pada masa ini, Ayashofia menemukan zaman keemasan sejati hingga kurang lebih lima abad ke depan.

Pada masa di mana konflik agama dan aliran mulai meningkat, yang menyebabkan kekuasaan Byzantium ikut terguncang, Ayashofia sebagai tempat ibadah masuk dalam kondisi yang sangat rawan. Hal itu terlihat dari kemandegan aktifitas yang biasanya meramaikan suasana religius di Ayashofia. Seiring dengan redupnya kekuasaan Byzantium, Ayashofia mengalami kemunduran yang sangat drastis. Bahkan tatkala kekuasaan Byzantium memasuki era kehancuran, Ayashofia dengan menara serta Kubahnya yang megah itupun rentan menghadapi kehancurannya sendiri.

Pada masa transisi dari kekuasaan Byzantium ke tangan Istambul, muncullah seorang arsitek handal dan cerdas bernama ‘Khair ad-Din’. Dengan kesigapannya ia berhasil memulihkan pondasi bangunan Ayashofia dan menyelamatkannya dari kehancuran. Menurut riwayat yang bekembang, insinyur handal dan cerdas ini sempat bertutur kata di hadapan Sultan Fatih yang saat itu bertempat di kota Ordon. Kepada Sultan Fatih ia bekata, “Tuanku Sultan! Saya telah mengembalikan pondasi bangunan Ayashofia. Andaikata Anda berkenan, saya akan merubahnya menjadi bangunan masjid atas perintah Anda.” Atas dasar berita sejarah ini, maka dapat kita katakan bahwa insinyur muslim berdarah Turki ini turut aktif mengembalikan kejayaan Ayashofia bersama Sultan Fatih. Demikianlah, Ayashofia kembali menemukan masa keemasannya terakhir kali di tangan Khair ad-Din.

Sejak menaklukkan Konstantin, Sultan Fatih beserta bala tentaranya melakukan shalat Jumat di Ayashofia untuk pertama kalinya. Setelah itu Ayashofia mengalami perkembangan pesat seiring dengan perubahannya menjadi masjid. Penyempurnaan-penyempurnaan dilakukan di sana sini dengan hiasan ornamen-ornamen artistik. Penambahan seperti tempat adzan maupun bangunan-bangunan kecil yang ada di sekelilingnya semakin menambah daya tarik sekaligus memantapkan keberadaan Ayashofia sebagai masjid yang bernuansa relegius. Penyempurnaan itu terus dilakukan di setiap mas kepemimpinan sultan yang silih berganti hingga sampai dalam wujudnya seperti sekarang ini.

Sejak pertama kali dilakukan shalat jumat di sana, Ayashofia menjadi bagian kehidupan kaum muslimin yang melekat di hati. Sejak itu pula, mereka melaksanakan shalat lima waktu setiap hari di Ayashofia. Ayashofia hidup dalam roh kaum muslimin hingga ketika Istambul menghadapi ancaman peperangan dari kaum salib yang bertekad mengembalikan gereja-geraja mereka—setelah berubah menjadi bangunan-bangunan masjid—termasuk Ayashofia. Tiba-tiba saja terdengar suara bergema dari atas Kubah. Suara itu berdengung amat keras dan menyebar ke seluruh penjuru. Berkat suara yang berdengung itu, kaum muslimin dapat memahami jalan menuju kemerdekaan. Sejak itu tidak pernah ada lambang salim bertengger di atas kubahnya. Akan tetapi bangunan ibadah yang selalu mencerminkan kehidupan religius hingga sekarang, yang juga memendam kekuatan sakral dari setiap generasi ini, atau juga yang telah beralih dari karakter fisiknya menjadi lebih bermakna berkat ruh ajaran Muhammad ini, setelah semua itu Ayashofia berada dalam kondisi yang tidak jelas, apakah sebagai gereja atau sebagai masjid. Itu tepat setelah lima generasi dari masa kekuasaan kaum muslimin atas Byzantium. Hal itu ditandai dengan keluarnya ketetapan pemerintah yang cenderung berkiblat pada dunia barat.

Saat ini, Ayashofia tengah menantikan kehadiran ruh yang dapat mengentaskannya dari kebekuan. Untuk menyelamatkan Ayashofia dari kondisi keterpurukan semacam ini, sesungguhnya sangat dibutuhkan keberanian pahlawan yang sanggup meneruskan perjuangan para pendahulu, semisal; Sultan Fatih, Khadr Jalabi, Pejuang Hasan serta Syamsuddin yang tahan banting. Mereka adalah pahlawan yang oleh kaum muslimin dijuluki sebagai orang-oang yang minum mata air Nabi Khidr as. Artinya, kita harus mengkondiskan keadaan untuk menemukan kembali semangat keilmuan yang pernah mengalir di madrasah-madrasah sejati. Kita harus mengkondisikan keadaan untuk menemukan kembali kehidupan spiritual yang pernah ada di hati para ulama. Kita harus menemukan kembali semangat disiplin yang ada di dunia kemiliteran. Dan puncaknya adalah mencari seorang pemimpin sekaligus pahlawan yang sanggup menyatukan barisan semua elemen tesebut.

(bersambung, Ayashofia, bag.2)

Anak Kerang

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam”. "Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaanadalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa". Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka krn orang2 disekitar kita..cobalah untuk tetap tersenyum dan katakan didalam hati.."airmataku diperhitungkan Tuhan..dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara-mutiara..."

Semangat Lebah

Pada suatu hari di hutan rimba yang damai hiduplah beraneka-ragam hewan… mulai dari gajah, singa, beruang, rusa, burung hantu, monyet dan koloni lebah. Pada suatu hari si burung hantu yang pandai menemukan suatu teori yaitu teori Aeordinamik. Dia mengemukakan bahwa “wahai bangsa lebah, kamu tidak bisa terbang karena sayapmu itu lebih kecil daripada badanmu!!”, setelah mendengar itu lebah muda kembali ke sarangnya dan langsung menghadap kepada ratu lebah. Setelah mendengar cerita dari lebah muda tadi sang ratu lebah mulai merenung “kenapa koq kami tidak bisa terbang?” “bukankah kami telah diberikan sayap oleh Tuhan??” “apakah Tuhan salah menciptakan kami??” .

Setelah itu sang ratu bertanya kepada penasehatnya…penasehatnya berkata “Yang Mulia apakah kita sudah pernah mencoba untuk terbang??” mendengar hal itu sang ratu mengumpulkan seluruh rakyatnya dan memberikan instruksi langsung kepada rakyatnya bagaimana caranya terbang… hari pertama gagal, hari kedua gagal dan tibalah ke hari yang ke-30 dan tetap gagal. Namun sang lebah muda masih mencoba dan mencoba dan di hari ke 31 dia berhasil terbang…

Setelah melihat lebah muda bisa terbang semangat koloni lebah meningkat dan lebih banyak mencoba lagi dan berhasil terbang… setelah semuanya bisa terbang mereka menghadap sang burung hantu dan mengatakan bahwa ”wahai burung hantu yang pandai sayang sekali teori aeordinamikmu itu tidak berlaku bagi kami bangsa lebah, mungkin teori itu berlaku bagi mereka yang tidak mau menghargai pemberian Tuhan dan tidak mau berusaha”.

Padang Mahsyar

Suatu hari, Nabi SAW memberi kabar para sahabat Radhiallahu’anhu, bahwa pada hari itu Israfil sudah meletakkan sangkakala di mulutnya. Pandangannya menatap ke ‘Arsy menunggu isyarat dari Allah ta’ala kapan hari kehancuran akan dieksekusi. Sudah sejak sangkakala diciptakan, Israfil melakukan hal itu tak ada yang dapat mempercepat ataupun memperlambatnya.

Nabi SAW mengabarkan, sangkakala yang garis tengahnya seluas langit dan bumi akan ditiup 3x. Nafkhatul Faza’ tiupan dahsyat yang pertama akan menggemparkan seluruh makhluk hidup. Allah memerintahkan Israfil memperpanjang tiupan ini tanpa henti ! Maka gunung-gunung akan bergerak seperti awan, lalu luluh lantah berantakan seperti fatamorgana. Bumi berguncang hebat, penghuninya bagai perahu yang terombang-ambing lepas, dihempas ombak kian kemari.

Hati manusia waktu itu sangat takut, wanita-wanita melupakan bayi yang disusuinya, yang hamil mengugurkan kandungannya. Anak kecil langsung beruban. Miliaran manusia yang berlagak gagah panik berhamburan. Tak seorangpun bisa melindungi mereka dari azab di hari itu.

Tiba-tiba bumi terbelah menjadi dua. Kejadian amat menyengsarakan. Hanya Allah SWT saja yang tahu penderitaan mereka. Mereka menengadah kelangit. Detik tiu juga langit berubah menjadi seperti cairan logam lalu terbelah. Bintang-bintang berhamburan, bertubrukan, matahari dan bulan tak lagi bercahaya. Hanya orang-orang yang dikehendaki Allah yang tidak terkejut dengan peristiwa dahsyat tersebut, yakni para syuhada yang gugur dijalan Allah. Mereka tak pernah mati, disisi Allah & terus mendapatkan rizqi.

Selanjutnya, seluruh langit dan bumi dimatikan Allah dengan tiupan sangkakala kedua, Nafkhatus Sha’iq, lalu dimatikan oleh Allah berturut-turut Malaikat Jibril, Mikail, Israfil. Lalu malaikat-malaikat pembawa ‘Arsy. Yang terkahir dimatikan oleh Allah azza wa jalla adalah ‘Izrail, malaikat maut. Maka sejak itu, tak ada lagi yang hidup kecuali Allah Yang Maha Ahad, Maha Mengalahkan, Maha Sendiri. Tempat bergantung semua makhluk. Tidak beranak dan tidak diperanakan. Dialah Yang Maha Awal & Maha Akhir.

Dengan kekuasaannya yang tak terbatas oleh apapun, Dia mengelar hari peradilan. Semua makhluk dibangkitkan dengan tiupan sangkakala ketiga : Nafkhatul Ba’ats Tak ada naungan & perlindungan selain dari diri-Nya. Miliaran manusia sejak Adam hingga manusia terakhir hidup saat langit & bumi dihancurkan, menunggu giliran satu per satu untuk diadili di Padang Mahsyar, lama waktu menunggu adalah 50 ribu tahun akhirat !! Betapa singkatnya hidup di dunia

Dia membentak sekeras-kerasnya seraya berfirman :
“Wahai sekalian jin dan manusia, sesungguhnya Aku telah diam saja terhadap kamu sekalian sejak saat Aku menciptakanmu sampai hari ini. (selama itu) Aku mendengar perkataanmu & melihat perbuatan-perbuatanmu. Maka dengarlah Aku sekarang; Inilah perbuatanmu dan catatan amalmu, dibacakan kepadamu. Barangsiapa mendapat kebaikan, maka pujilah Allah. Dan barangsiapa mendapatkan yang lain, maka jangan mencela selain dirinya sendiri.”

Semua kasus yang pernah terjadi dalam sejarah, manusia diadili seadil-adilnya. Tak ada seorangpun mati terbunuh melainkan ada pembalasan bagi pembunuhnya. Tak ada seorangpun teraniaya kecuali mendapat pembalasannya. Bahkan, orang yang mencampur susu dengan air sekalipun, akan dipaksa oleh-Nya untuk memurnikan susu itu dari air kembali.

Sesudah semua kasus habis diselesaikan, dikumandangkanlah suatu seruan yang didengar oleh seluruh makhluk, “Hendaklah setiap penganut agama mengikuti Tuhan mereka masing-masing, ataupun yang mereka sembah selain Allah.”
Pada saat itu, seorang malaikat yang diwujudkan seperti Uzair, diikuti oleh kaum Yahudi. Malaikat lainya diwujudkan serupa ‘Isa, lalu diikuti oleh kaum Nasrani. Kemudian sesembahan yang salah itu mengiring mereka semua ke neraka.

“Andaikan berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Anbiyaa:22)

Setelah semua penghuni neraka digiring ke tempatnya, hadirlah Allah dalam wujud yang dikehendak-Nya seraya berfirman : “kini tinggalah Aku, sedangkan Aku adalah yang Maha Pengasih di antara yang pengasih.”

Lalu segolongan demi segolongan orang dimasukkannya ke dalam syurga. Mulai dari mereka yang dikenal oleh orang yang paling dikasihi-Nya, Muhammad SAW, hingga orang-orang shalihin yang hidup dijaman-jaman sesudahnya. Bahkan kehendak Dia mengangkat sebagian penghuni jahanam untuk dimapuni & dipindahkan ke syurga yang penuh kenikmatan & semua kekal di dalamnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
“Salinan dari Huruhara Kiamat”
by Ibnu Katsir (Ulama hidup di abad 8 H)