Thursday, December 04, 2008

Ayashofia (bag. 2)

Ayashofia sendiri telah dipenuhi ruh umat islam. Meskipun tahun demi tahun terus berlalu, akan tetapi setiap kali kita mendekatinya, atau memasuki ruang sakralnya yang memancarkan cahaya khusus itu, kita akan merasakan adanya makna yang beraneka ragam tentang masa lalunya yang gemerlap. Meskipun ruang-ruang itu hanya diam membisu, akan tetapi ia menyimpan kekuatan yang dapat membawa kita pada suasana akrab ibarat perjumpaan dengan sahabat lama. Dia bisa membisikkan kelimat-kalimat ke dalam telinga kita. Dia bisa merangkai kata dan berusaha menjelaskannya pada kita. Begitulah, setiap kali kita mendekatinya rasanya kita sedang berhadapan dengan para leluhur kita yang terpisah oleh zaman. Sekali lagi, kita akan terbawa khayalan seolah dia terus menerus berbisik pada jiwa kita tentang perasaan-perasaan dan hasrat-hasrat yang tersembunyi.

Dengan kondisinya yang terasing lagi terbuang seperti sekarang ini, tentulah banyak keluhan yang jika sanggup ia ungkapkan niscaya akan menggetarkan jiwa kita. Dia merasakan kepedihan yang dalam. Dia merasakan pukulan yang meluluhlantahkan kecantikannya. Dia kini seperti seorang bocah yang sedang meminta perhatian. Dia ingin selalu menjadi buah bibir setiap orang. Dia tidak saja ingin dikenali, tapi ingin disayang dan dikasihi. Semua itu akan membuat siapapun yang menatapnya merasa iba. Semua itu membuat siapapun yang memandangnya akan meneteskan air mata kepedihan. Sungguh dia ingin sekali mencurahkan masa lalunya yang penuh gemerlam ke dalam lubuk hati kita.

Di tengah kabut hitam yang mencekam seperti sekarang. Dengan raut muka yang menguning seperti buah jeruk itu. Serta dalam karakternya yang serba berbau Timur ini, sesungguhnya Ayashofia lebih mirip dengan sekuntum bunga dari Barat, bukan seperti bunga yang lahir dari sebuah perjuangan. Karena itu, pertama kali menatapnya kita akan merasakan benturan-benturan yang tidak menentu dalam penglihatan kita. Namun, segera setelah itu kita akan dikelilingi cahaya yang menyejukkan sebagai hadiah dari upaya lima generasi umat Islam dalam menjaga kejayaan Ayashofia. Cahaya itu bertebaran ke segala penjuru jiwa kita hingga kita berhasrat untuk selalu mendekapnya penuh kasih sayang. Kita akan terus menciumnya ibarat bunga yang kita petik dari taman.

Andaikata kita bawa ruang bersejarah ini bersama angan-angan ke masa lalu yang penuh pesona, maka kita akan terbawa untuk memahami makna-makna yang indah itu sedalam perasaan. Kita akan berjalan di masa mudanya yang sangat perkasa dan menawan. Kita akan diajak untuk mendengarkan lantunan musik yang syairnya mengisahkan seluruh kenangan manis dan pahit di masa lalunya. Kita akan dibawa mengarungi seluruh hari bahagia maupun hari suramnya. Kita akan diajak mencicipi semua pengalaman sepanjang sejarah hidupnya yang tidak kurang dari 1700 tahun. Sesungguhnya ia ingin melakukan semua itu bersama anda. Akan tetapi ia idak sanggup lagi. Dia seperti orang yang mulutnya disumbat dengan penindih yang sangat kuat. Dia tidak bisa lagi berkisah. Dia tidak bisa lagi berkata-kata. Yang bisa dilakukan hanya menelan ludah. Ia berusaha keras untuk menjerit, tapi sedikitpun itu tidak dapat dilakukannya. Dengan himpitan rasa takutnya yang terpancar dari raut muka yang sedih itu, ia tidak ubahnya seperti tumpukan batu keras yang terdiam membisu.

Dari generasi ke generasi Ayashofia hidup bersama kita. Ia telah mendarah daging dengan kehidupan kaum muslimin. Keterkaitan ini teramat erat hingga kita melihatnya seperti warisan asli dari pemerintah Istambul. Semua yang melekat padanya melambangkan peradaban kejayaan kaum muslimin pada masa sultan-sultan Usmani. Dindingnya yang berdiri kokoh mengitari seluruh sisi bangunan. Bangunan yang tegak ditopang pondasi yang menancap dan mengakar di bumi. Beberapa tambahan di dalamnya terus dilakukan dalam setiap generasi kekasiran. Saya katakan ia seperti peninggalan asli dari pemerintah Usmani juga dikarenakan keberadaannya selama kurang lebih empat generasi selalu di bawah pengawasan dan perhatian yang besar dari pemerintah. Ia juga sangat dekat dengan bangunan Istana “Tub Qabu” yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Usmani. Selain itu, bangunannya yang berderet dekat dengan Masjid Sultan Ahmad semakin melengkapi atributnya sebagai milik kaum muslimin. Tentu saja semua ini mengindikasikan sebuah kesadaran beragama (termasuk politik) yang berhasil meninggalkan pengaruh mendalam di hati setiap kaum muslimin. Kesadaran inilah yang pada akhirnya menempatkan Ayashofia sebagai bagian tak terpisahkan dari alam serta kehidupan kita.

Setiap hari, matahari menampakkan wajahnya dengan cahaya yang sedikit demi sedikit membelai menaranya. Cahaya itu lalu menuruni menara dan hinggap di atas kubah. Perlahan tapi pasti, cahaya yang semakin terang itu menyebar memenuhi bangunan Ayashofia. Lalu ia mengarah ke Masjid Sultan Ahmad. Saat senja tiba, cahayanya yang redup mendekap erat Masjid Sultan Ahmad seiring dengan datangnya angin senja yang berhembus sesaat setelah waktu ashar. Cahaya senja yang mengawali belaiannya dari Istana “Tub Qabu” itu terus berjalan tenang melewati Masid Sultan Ahmad hingga menjangkau Ayashofia. Sinar mentari itu datang dan pergi melewati dua bangunan peribadatan yang megah ini dua kali setiap hari. Seolah-olah ia hendak menyampakan salam dari Nabi Isa as kepada Nabi Muhammad saw. Dan sebaliknya, dari Nabi Muhammad saw kepada Nabi Isa as.

Orang-orang yang hatinya sedih melihat keadaan dua bangunan ibadah ini seperti merasakan hembusan angin yang membawa awan dingin bertiup dari Timur dan mengarah ke Istana Tub Qabu. Seiring hembusan mendung dingin ini, mereka merasakan ratapan kesedihan dalam jiwa yang menyematkan rasa tak berdaya. Leher mereka seolah tercekik, namun tidak berdaya melepaskan rasa sakit. Kadangkala mereka melihat seperti ada mendung tebal yang menutupi langit. Namun ada kalanya tatkala perasaan sakit yang mereka rasakan sampai pada titik nadir, tidak mustahil perasaan sakit yang sangat komplek ini akan menyatu berkat pertolongan serta kasih sayang dari Dzat Yang Maha Kuasa. Perasaan yang menggumpal itu akan menjelma seperti rangkaian syahadah (kesaksian) yang muncul dari sekitar menara dan terus mengarah ke alam keabadian sejati. Mereka akantenggelam dalam khayalan tersendiri. Mereka akan mencapai suatu kondisi yang tidak dapat digambarkan. Mereka seolah telah menemukan pesona yang sanggup manghapus kepedihan serta menyinarkan harapan baru. Segera setelah mereka melangkahkan kaki sekalisaja, mereka akan sampai di ambang pintu rahmat sang Maha Rahman yang pintu-Nya selalu terbuka di hadapan kita. Setelah itu, mereka akan menghadap kepada Sang Rahman dengan segenap jiwa dan kepasrahan total serta hasrat cinta yang menyala-nyala. “Ya Tuhan kami! Wahai Dzat Yang sanggup membuka setiap pintu yang tertutup! Bukakanlah kepada kami pintu-pintu Ayashofia sebagaimana terbukanya ribuan pintu yang lain. Dan sinarilah tanahnya yang hitam karena sujud yang terhalang. Sinarilah dengan cahaya sujud walau sekali saja!”

Keadaan yang sangat memprihatinkan di Ayashofia ini mendorong setiap orang yang melihatnya mengucapkan unmgkapan yang yang menakjubkan, sekalipun di dalamnya menyiratkan rasa sakit yang mendalam. Keadaannya yang terbaring sakit tak berdaya itu menyerupai orang yang membelalakkan matanya pada kita sementara ia tidak dapat berkata-kata. Setiap kali kita menyaksikan keadaannya yang menyedihkan ini, rasanya di dalam jiwa ini muncul hasrat serta keinginan-keinginan yang melangit. Hal itu seperti dapat menggugah kesadaran, dan membawa kita menemukan impian esok di pagi hari. Pagi hari dimana kita akan menyaksikan impian kita terlukis jelas di sana. Sementara itu, kita tidak lagi peduli dengan diri sendiri. Kita tinggalkan diri kita terjerembab dalam dunia yang dipenuhi kabut gelap dan awan hitam.

Kadangkala suara adzan yang bekumandang dari menara Masjid Sultan Ahmad dan sampai ke Istana Tub Qabu, rasanya seperti berkumandang dari menara Ayashofia. Saat mendengar suara adzan itu, kita seperti merasakan pesona suasana masa lalu yang mengaliri sekujur tubuh kita. Kita seperti sedang melayang dengan sayap-sayap impian dan menembus langit-langit masa lalu. Kadang kala, ada sesuatu yang mendalam melintasi tubuh kita seiring dengan lantunan kumandang suara adzan. Bersama gema takbir yang berkumandang itu, lahir khayalan seolah kita mendengarkan seruan bala tentara Sultan Fatih yang berjuang dalam peperangan mengembalikan kemuliaan kalimat Allah. Kita seperti hidup di tengah masa puncak kejayaan.

Pohon-pohon tua yang ada di sekitar Ayashofia, dinding-dinding batu yang terlihat renta, serta kubah-kubah kecil dan besar yang penuh dengan kenangan tersembunyi, semua itu seringkali memberikan kesan tak menentu dalam hati kita. Perasaan yang membolak-balikkan beragam aroma yang menyentuh jiwa. Perasaan yang takkkan pernah tehapus dalam dada. Namun keadaan ini tidak berlangsung lama. Pasalnya harapan cerah akan segera menyingsing dari tepi iman kita. Sebagaimana kebekuan musim dingin yang sirna oleh datangnya musim semi. Sebagaimana malam menghilang di ambang fajar, demikian pula mendung hitam yang menyelimuti Ayashofia akan berangsur sirna hingga langit tampak cerah di atasnya.

Di manapun dan kapanpun, kegelapan tidak akan pernah bertahan sepanjang masa. Tidak mungkin ketidakberdayaan ini akan tiada akhir. Karena itu meskipun hingga kini kita masih mendekap dalam gelap yang memisahkan kita dari impian terindah, sampai detik inipun sesungguhnya cahaya itu masih saja memnyinari kepada kita. Sesungguhnya cahaya itu belum sirna. Ia masih menerangi meski dari tempat yang sangat jauh. Masih ada semangat ilahi yang mengalir di tubuh kita dan melapangkan harapan. Masih ada hembusan angin yang menguatkan tekad kita. Masih ada dan tiada mungkin sirna hingga kapanpun.

(bersambung Ayashofa, bag.3 )

No comments: