"Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS Az-Zumar,10)
Friday, September 27, 2013
Hobi Belanja
Seorang guru pernah menasehati, jika kita punya uang, dan ingin membelanjakan uang tersebut, maka ada dua hal yang harus dipikirkan matang2: yang pertama adalah belanjakanlah uang itu untuk sesuatu yang tahan lama; yang kedua belanjakanlah uang itu untuk sesuatu yang penting.
Kaidah ini simpel sekali, hanya dua. Tapi jika dipikirkan dengan baik, dua hal itu lebih dari cukup untuk membuat kita memahami bagaimana seharusnya memperlakukan uang yang kita miliki. Dan memang, dimana2, pemahaman baik itu selalu sederhana, tidak rumit dan membuat susah diri sendiri. Akan saya bahas satu persatu penjelasannya.
Yang pertama, belanjakanlah uang itu untuk sesuatu yang tahan lama.
Makanan lezat sungguh menggoda selera. Apalagi jika dihabiskan di tempat yang nyaman dan indah, bisa membawa kebahagiaan. Tapi makanan jelas tidak masuk kriteria tahan lama. Kita simpan dalam kulkas pun, dia akan busuk akhirnya. Kita makan sedikit-sedikit, dia pun akan habis. Untuk kemudian keluar jadi kotoran. Maka dalam kaidah ini, makanan ada dalam posisi paling bawah. Pakaian pun juga sungguh membuat hati senang, bahagia. Apalagi jika itu pakaian yang bagus, keren dan pas, bisa membuat kita percaya diri. Tapi pakaian, cepat atau lambat akan rusak. Luntur warnanya, lepas jahitannya, atau mungkin kekecilan dan tidak mode lagi. Dalam kaidah ini, pakaian nasibnya sama dengan makanan. Tahan lebih lama, tapi tidak selama2nya. Pun sama dengan jam tangan, sepatu, perhiasan (kecuali utk investasi), motor, mobil, HP, televisi, dsbgnya. Semua akan rusak pada akhirnya.
Lantas, apa itu yang tahan lama? Banyak. Salah-satu yg paling terlihat adalah pendidikan. Belanjakanlah uang tersebut untuk pengetahuan, maka dia akan bertahan lama, menetap. Tentu tidak harus sekolah, menonton film bisa--contoh yg paling simpel. Ketika kita menonton film yang baik, menumbuhkan pemahaman baik, maka dia akan menetap lama, berbeda jika menonton film Avengers, dsbgnya. Juga membeli buku2 yang baik, melakukan perjalanan untuk melihat sekitar, dan semua hal yang menambah pengetahuan. Dalam kasus ini, membeli makanan pun, meski sifat makanannya sebentar, tapi jika dilakukan oleh seorang koki restoran yang sedang belajar memasak, membeli makanan tsb untuk dipelajari, belanja tsb berubah menjadi lebih tahan lama.
Tapi sungguh, ada yang lebih tahan lama dari itu. Lebih lamaa sekali dibanding pendidikan atau pemahaman yg baik. Apa itu? Ketika uang dibelanjakan untuk keperluan membantu orang lain. Dan ini jadi menarik. Ketika ada anak yatim di sekitar kita, dan kita berikan makanan yang baik baginya, sifat makanan itu amat cepat, hilang, tidak tahan lama. Akan tetapi, kebaikan yang hadir dalam proses belanja itu menatap sangat lama. Lamaa sekali, di luar batas2 jam milik dunia. Apalagi jika uang itu dibelanjakan untuk biaya pendidik fakir miskin, lebih menakjubkan lagi tahan lamanya.
Kaidah yang kedua, belanjakanlah uang itu untuk sesuatu yang penting.
Apa itu penting? Banyak. Ketika kita lapar, maka meskipun makanan itu tidak tahan lama, tapi dia memenuhi syarat kedua, penting. Kita bisa membelanjakan uang kita untuk makanan karena penting, bertahan hidup. Tapi jelas, satu pizza yang lezat cukup untuk kenyang, dan saat kenyang, tambahan di luar itu, bebek goreng, steak sedap, tidak lagi masuk kategori bertahan hidup. Juga membeli pakaian, penting. Harus malah, kan tidak mungkin kita telanjang. Tapi ada batas2nya, ketika sudah berlebih, maka kategorinya tdk lagi penting (meski sandang itu adalah kebutuhan primer).
Bagi seorang juragan travel, membeli mobil juga penting. Tapi bagi sebuah keluarga dengan anak dua orang, membeli mobil ketiga, rasa2nya sdh berlebihan. Apalagi jika ada seseorang yang punya 1.000 mobil, tidak ada lagi definisi penting tersebut--meskipun memang punya uangnya, dan terserah kitalah mau dibelanjakan apapun.
Apa itu penting? Ketika kita memang membutuhkannya. Dan kebutuhan itu kongkret, nyata. Bukan diada-adakan saja. Salah-satu kebutuhan yg diada2kan itu adalah ketika kita membelanjakan uang untuk sesuatu yang ternyata tidak pernah dimanfaatkan secara maksimal. Kalian tentu lebih dari tahu contohnya apa. Bisa didaftar dari barang apa saja yang pernah kita beli, miliki, apakah semuanya sudah maksimal digunakan?
Apa itu penting? Nah, saya akan tiba ke bagian paling serius kenapa catatan ini ditulis. Sesuatu itu jadi super penting, umumnya kerana ketika kita rela memberikan seluruh harta benda kita demi memperolehnya. Saat tersesat di gurun pasir, haus berat, maka seseorang mungkin bersedia menukar segelas air minum dengan harta bendanya yang banyak. Saat dalam kondisi hidup mari, seseorang bersedia membayar berapa saja, karena itu kondisi mendesak. Tapi ini sih bukan penting yang say maksud. Karena kita masih bisa punya solusinya, masih bisa diusahakan. Ada situasi yang lebih penting dari itu.
Yaitu kelak, ketika orang2 ditanya buat apa harta benda dia digunakan, maka akan ada orang2 yang dengan wajah penuh penyesalan, akan berseru-seru, "Wahai Allah, seandainya kami diberi waktu sedikit saja untuk hidup lagi, seandainya kematian kami ditunda sedikit saja, sungguh kami akan membelanjakan harta kami untuk kebaikan, ber-infaq sedekah." Inilah situasi sangat penting tersebut, ketika kita sudah terlanjur telat. Amat terlambat untuk menyadarinya. Dan tidak ada lagi kesempatan untuk kembali memperbaikinya. Karena kita sudah mati, sudah dalam posisi dihitung. Tidak ada yang bisa dibeli meski dgn seluruh dunia, karena barangnya tdk dijual.
Maka, guru berwasiat dengan lembut, jika kita punya uang, belanjakanlah, tidak ada larangan atas hal itu. Tapi pastikan gunakan dua kaidah tadi; belanjakan untuk sesuatu yang tahan lama, dan untuk sesuatu yang sangat penting. Agar kita kita selamat dari fatamorgana dunia yang fana dan sebentar. Karena sungguh, ada 'barang' yang benar2 tahan lama dan penting menunggu kita kelak.
*Tere Liye
Subscribe to:
Posts (Atom)