Alhamdulillah…Segala puji hanya untuk Allah SWT…semakin hari putriku tumbuh semakin pintar. Pagi-pagi jika budenya tidak ada dirumah putri kecilku Shofiyah aku titipkan dirumah ibu mertuaku, dan sore sehabis pulang kerja, kembali ku jemput. Mendengar cerita dari Ibu bagaimana kegiatan setiap harinya, selalu ada saja yang membuatku tersenyum. Sekarang ia mulai bisa main dengan anak-anak yang lain, bisa main bola, main boneka, main masak-masakkan dan banyak lagi main yang bisa dilakukan.Suatu hari saat Shofiyah terlelap tidur setelah seharian kelelahan bermain saya sampaikan pesan imajiner ini kepadanya: Anakku, saat ini kau masih berumur 2,5 tahun, masih kecil dan tentunya belum baligh (remaja). Abi dan umi akan berusaha menyiapkanmu sebaik mungkin. Bila nanti secara biologis kau sudah remaja, Umi berharap pikiran, mental dan sikapmu juga sudah remaja. Kau sudah bertanggungjawab atas semua hal yang kau lakukan.
Putriku, diantara total usiamu di dunia, mungkin hanya 25 persen abi dan umi intensif bersamamu dan membekali hidupmu. Selebihnya, kau harus berjuang sendiri, membekali dirimu sendiri, hidup dengan suamimu dan menentukan arah kehidupanmu sendiri. Walau hanya 25 persen umi berharap itu sangat berarti dalam hidupmu.
Putriku, saat ini kehidupanmu masih membutuhkan umi dan abimu. Tetapi di kehidupan setelah dunia, abi dan umilah yang membutuhkan dirimu. Amal sholeh dan kebaikan yang abi dan umi lakukan masih teramat sedikit, kami memerlukan bantuan dan pertolonganmu.
Oleh karena itu, perbanyaklah melakukan kebaikan khususnya yang pernah abi dan umi ajarkan kepadamu agar pahalanya terus mengalir kepada orang tuamu. Anakku, jagalah imanmu, perkayalah pikiranmu, pertajamlah jiwamu, lembutkanlah hatimu, gelorakan terus semangat juangmu, sempurrnakan terus akhlak muliamu.
Duhai putriku, umi titipkan masa depan akherat umi dan abimu kepadamu. Tanpa peranmu rasanya umi tidak pantas meminta tempat terhormat di akhirat kepada Allah Sang Pencipta. Sekali lagi, kutitipkan masa depan akhirat kami kepadamu. Bantu kami wahai anakku. Tolong kami wahai buah hatiku. Mau kan memenuhi permintaan umimu?